The Historical Journey

Kabupaten Tuban, Jawa Timur

Desa Wisata Kabupaten Tuban Jawa Timur Indonesia Menuju Dunia

Explorasi IFTA
Kabupaten Tuban,1-3 Juli 2022

IFTA Jelajah Indonesia awal bulan Juli 2022 tepatnya tanggal 1-3 Juli, hadir di Kabupaten Tuban Jawa Timur untuk melakukan explorasi desa-desa yang mempunyai histori sejarah dan spot-spot yang indah dan menakjubkan berada di kabupaten Tuban yang selama ini banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu dan mempunyai potensi wisata desa baru Indonesia sebagai alternatif wisata domistik maupun internasional. Kali ini IFTA hadir dengan rombongan yang begitu luar biasa dengan menghadirkan 31 travel agent seluruh Indonesia, untuk melakukan Uji trip destinasi wisata desa yang selama ini belum di explorasi potensinya.

Di hari pertama, titk kumpul pagi hari kita berada di Sowan Beach, untuk menikmati matahari terbit dari timur. Pantai ini memiliki areal yang luas dan dikelola oleh Perhutani Tuban. Keunikan pantai ini adalah luasnya area yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Wisatawan yang bermain di pantai ini akan merasa lebih teduh akibat lindungan pepohonan yang berukuran besar.

Pohon yang tumbuh bermacam-macam jenis. Mulai dari pohon trembesi, klampis hingga mahoni. Ada juga pohon tapis yang menghasilkan buah seperti asam. Pohon-pohon tersebut sangat membantu dalam menghijaukan pemandangan di pantai ini.

Kemudian kita menuju Desa Cokrowati Kecamatan Tambakboyo Kabupaten Tuban, disini kita membuka Event The Historical Journey of Tuban, yang digelar di Pujasera yang di hadiri oleh Bupati Tuban Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky di damping oleh Pembina IFTA DR. Hj. Iswanti yang mengungkapkan alasan kenapa memilih Kabupaten Tuban menjadi tuan rumah dalam acara tersebut karena telah ditentukan berdasarkan historical journey. Ibu Iswanti mengatakan proses Kabupaten tuban menjadi tuan rumah event IFTA kali ini karena berdasarkan kajian yang cukup dalam, karena kita tahu Kabupaten Tuban mempunyai potensi wisata sejarah, religi dan adat istiadat yang masih terkendala infratruktur dan Sumber Daya Manusia terutama elemen Desa yang menjadi perhatian kami, dimana perangkat desa dan UMKM perlu terus digiatkan untuk memacu geliat pariwisata setelah pasca Pandemi Covid-19 “ ucap ibu Iswati.

Iswanti juga menambahkan, pihaknya beserta pengurus IFTA dari seluruh Indonesia turut hadir di Tuban untuk membantu mempromosikan pariwisata serta potensi – potensi yang ada di Kabupaten Tuban

Sementara itu, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menyampaikan dengan adanya event The Historical Journey of Tuban ini merupakan bukti Pemerintah Daerah mengenalkan potensi yang ada di Kabupaten Tuban ke tingkat nasional.

“Saya berharap budaya – budaya ini akan rutin dilakukan setiap tahunnya dan pemerintah akan selalu support,” Tutur Bupati Tuban.

Bupati Lindra mengatakan, ke depan kegiatan pariwisata, ekonomi kreatif serta seni budaya akan diselenggarakan setiap tahunnya serta menyeluruh di berbagai tingkat desa maupun kecamatan yang ada di Kabupaten Tuban.

“Sesuai dengan program saya “one village one product, insha Allah potensi-potensi yang ada di Kabupaten Tuban siap menjadi agenda wisata tahunan,” kata Bupati Lindra.

Pelaksanaan The Historical Journey of Tuban akan digelar selama 3 hari dari mulai tanggal 1 sampai 3 Juli 2022, yang diisi dengan serangkaian acara pentas seni khas Tuban.

Ketua Umum IFTA Hendra Perdana atau akrab dipanggil Kang Elang juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah kabupaten Tuban, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur serta Dinas Pariwisata Kabupaten Tuban yang terus mengawal proses The Historical Journey dari proses riset dan development potensi desa oleh praktisi-pratisi IFTA guna memberikan pelatihan-pelatihan secara kongrit kepada kelompok dasar wisata desa untuk membuka wawasan dan membuka ruang potensi pariwisata khususnya wisata desa.

Di desa Cokrowati IFTA beserta rombongan yang terdiri dari pengurus, anggota IFTA 13 Kabupaten Kota serta para Agen Wisata IFTA melakukan explorasi wisata alam sumber mata air TRATES yang konon sumber air ini bisa di minum karena kadar PH nya sudah memenuhi standar untuk diminum. Dengan mengunakan kendaraan Odong -odong kamipun senang menikmati alam desa dengan hamparan padi dan melihat dengan dekat aktifitas masyarakat yang tengah Bertani diladangnya.

Setelah itu kita melanjutkan ke sebuah komunitas kesenian daerah Paguyuban seni Thak-Thakan, “Gembong Singolawe” Belikanget, Tambakboyo Tuban, disini kita diberikan cerita sedikit tentang seni thak-thakan bahwa ada seorang pengembara pada zaman dahulu kala, ketika mengembara tokoh itu selalui di hantui oleh mahluk-mahluk yang menganggu dalam pengembaraannya.

Dihari kedua kita menlanjutkan perjalanan explorasi dimulai dengan explorasi kuliner dengan merasakan sensasinya dengan sarapan nasi pecel “Juara” disalah satu sudut kota Tuban. Kemudian wisata religi ke Klenteng  KWANG SING BIO yang konon kuil ini merupakan Kuil yang terbesar di di asia tengara dan satu-satunya kuil yang menghadap ke laut,

Laut dan Satu-satunya klenteng di dunia yang bersimbol kepiting.

Kemudian kita juga mengunjungi sebuah gereja tua di TUBAN gereja katolik Santo Petrus, IFTA kali ini satang ke Tuban mempunyai visi keberagaman yang saling menghargai dan saling menghormati dalam lintas agama yang ada baik bagi seluruh anggota IFTA maupun bagi keberagaman yang ada di Indonesia untuk saling rukun dan damai.

Setelah itu kita ke Festival Kota Lama di Desa Punggrahan Kulon, disini kita lebih tahjud lagi ternyata kita di sambut oleh puluhan UMKM desa dengan potensi desannya dari kuliner, batik, minuman tradisional, disini kami disuguhkan sebuah pertunjukan teaterikal yang spektakuler “Ronggolawe” dimainkan oleh anak-anak Punggrahan kulon dengan epic hingga ratusan orang yang hadir disana terkesima dengan pertunjukan dan jalan ceritanya. Siang harinya kita disuguhi makanan khas Punggrahan Kulon,

Menjelang sore sekitar jam 3 kita melanjutkan perjalanan explorasi kita ke komplek pemakaman Sunan Bejangung Lor dan Kidul yang Tak jauh dari pusat kota 2 km keselatan kota terdapat dua makan penyebar agama Islam di jawa generasi sebelum adanya WaliSongo, kedua makam ini tidak satu komplek namun masig berada dalam satu lingkup desa Bejagung kecamatan Semanding. Sesampainya kami disana kita disuguhkan cerita religi tentang perjuangan dua tokoh ini dalam menyiarkan agama islam di tanah jawa. Bejagung lor dan bejagung kidul masih mempunyai ikatan keluarga dimana Bejagung Kidul merupakan menantu dari Bejagung Lor, ceritanya berlanjut pindahnya Bejangung Lor bersamaan dengan pindahnya masjid untuk misi dakwah di wilayah Bejagung kidul kepada menantunya yang Bernama Pangeran Kusumohadi yang merupakan putra Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk, ia belajar agama islam dan menjadi santri Sunan Bejagung, kemudian berganti nama menjadi Hasyim Alamuddin.

Turut hadir dalam acara tersebut turut dihadiri pula Wakil Bupati Aceh Tengah Firdaus, Wakil Bupati Seruyan Hj Iswanti, Wakil Bupati Wakatobi Ilmiati, Wakil Bupati Pakpak Barat H Mutsyukito Solin, Direktur Penataan dan Administrasi Pemerintah Desa Kementerian Dalam Negeri RI Hj Amanah Asri, serta Forkopimda Kabupaten Tuban.

 

 

Team Published Bintik IFTA

– Mohd. Fikri
– Zidane Abbas
– Sofwan Amin

Tags

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.